Wanita (bisa jadi) Racun Dunia.. ?!?

Ini cerita tentang seorang sahabat yang sekarang sudah menjadi duren (duda keren.. ). “Hai bro.. pa kabarnya? semoga kau dapat pengganti secepatnya. Kali ini harus Mrs Right yah. Good luck Bro.. ”

Terakhir kali bertemu dengan sahabat saya ini, walau selalu tersenyum namun ada keletihan yang sangat dalam sinar matanya. Memang sudah beberapa bulan terakhir, dia mengatakan sedang mengurus perceraian dengan istrinya. Tapi apa pemicu keretakan rumah tangganya itu belum jelas bagi saya.

Dimata kami teman-temannya, pernikahan mereka awalnya bagai pernikahan yang akan “happy ever after..”. Sang lelaki, adalah lelaki mapan yang bertanggung jawab pada keluarga. Sedangkan sang wanita, adalah seorang gadis cantik, ayu dan lemah lembut. Merekapun menikah atas dasar saling mencintai.
Tapi entah mengapa setelah 5 tahun mahligai pernikahan mereka harus hancur. Kemudian terjawab juga pertanyaan itu. Akhirnya dia mau bercerita tentang segala hal yang menjadi penyebabnya.

Kisah ini bukan untuk menguak aib seseorang, tetapi lebih kepada hikmah yang terkandung di dalamnya agar dapat menjadi pelajaran berharga bagi orang lain, yang akan dan sedang mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga

Mereka memulai segalanya dari nol. Bersama bahu membahu merangkai rajutan cinta yang manis. Satu persatu anak mereka lahir, seiring dengan makin membaiknya keadaan ekonomi mereka. Mereka dikarunai 2 orang anak lelaki. Kehidupan seakan berjalan mulus, bahkan terlalu mulus baginya.

Masalah dimulai ketika anak pertama mereka sudah harus bersekolah. Sebagai orangtua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya, dimasukkanlah putra mereka ke sekolah favorit yang terbilang mahal untuk ukuran kehidupan teman saya ini. Tetapi dengan tekad yang besar, ia bersedia melakukan kerja sambilan sebagai freelance programmer untuk membiayai sekolah putranya.

Setiap hari putra mereka diantar jemput oleh sang istri. Dari seringnyaa berkumpul dengan ibu-ibu sesama orangtua murid di sekolah itu, mulailah sang istri ini berubah, tukasnya. Mereka adalah para ibu dengan status sosial dan kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupannya. Sedikit demi sedikit ia berubah, dari gaya busana, tatanan rambut sampai gaya hidupnya.

Awalnya sang suami masih dapat memenuhi kebutuhan istrinya akan segala hal pernik2 itu. Tetapi karna memang sang istri mengikuti gaya hidup para orangtua murid yang notebene dari “kalangan atas”, maka lama kelamaan sang suami tidak sanggup lagi memenuhinya. Mulailah sang istri mengambil uang dari jatah uang belanja, uang susu & uang sekolah anaknya.

Bukan sekali dua kali sang suami menasehati istrinya untuk tidak terjebak dalam pergaulan “kalangan atas” yang nyata-nyata jauh dari kemampuannya untuk mengikuti. Namun hanya dianggap angin lalu, bahkan sering jadi pemicu pertengkaran mereka.

Tidak berhenti karena dinasehati, sang istri malah semakin menjadi. Sang istri sudah terlanjur masuk dalam lingkaran itu. Dia mulai kenal dengan banyak orang terpandang. Dia mulai berani untuk berhutang tanpa sepengetahuan suaminya. Berhutang di banyak tempat, mulai sering keluar malam, bahkan pernah tidak pulang. Dia mulai pandai berbohong, yang akhirnya ia jadi jauh dari anak-anak dan suaminya. Bulan Ramadhan pun bukan menjadi penghalang baginya, karena dia tetap melakukan semua kegiatan tersebut.

Singkat kata, setelah segala nasehat tidak lagi didengar, maka sang suami mulai membatasinya dalam hal finansial. Kalau selama ini sebagian besar gaji suami diberikan kepada istrinya untuk dikelola, sekarang ia hanya memberikan uang sekedarnya saja untuk membeli kebutuhan istrinya sendiri selama 1 bulan. Sedangkan uang belanja, uang sekolah dan segala macam keperluan rumah tangga, sekarang dipegangnya sendiri.Namun semua ia lakukan juga dengan satu perjanjian, bahwa pengaturan uang akan dikembalikan lagi kepada istrinya setelah semuanya kembali normal.

Karna uang tak lagi leluasa dia dapat, sang istri tak lagi dapat memenuhi hasratnya mengikuti gaya hidupnya kini. Hingga suatu hari istrinya nekad pergi tanpa pamit dari rumah dengan membawa anak bungsu mereka. Dicari kesana kemari ternyata dia pulang kerumah orangtuanya di kampung.

Saat ditanya alasan kenapa dia pergi begitu saja, jawabnya adalah bahwa sang istri merasa sudah tidak cocok lagi dengannya. Dengan dalih pergi dari rumah karena tidak diberi nafkah oleh suaminya, menjadi tameng sang istri untuk mengadu kepada keluarganya.

Sementara di tempat tinggalnya, sang suami mulai mendapat masalah. Tiap hari ada saja telp berdering menanyakan tentang hutang2 yang dilakukan istrinya. Bukan hanya teror melalui telp, tetapi juga datang rumah atau ke tempat kerja sang suami untuk menagih hutang2 istrinya yang berasal dari berbagai pihak tersebut. Dan puncaknya anak sulungnya juga harus Drop Out dari sekolah, karna belakangan diketahui sudah 4 bulan menunggak SPP.

Sementara sang suami terseok-seok membayar cicilan hutang2 tersebut, sang istri diketahuinya kembali ke kota dan tinggal disebuah rumah kos. Sedangkan anak bungsu mereka ditinggalkan di rumah orangtua sang istri di kampung. Bukan itu saja, sang istri juga diketahuinya tengah menjalin hubungan cinta dengan seorang anak pengusaha kaya raya.

Betapa hancur sudah harapannya untuk mempertahankan mahligai rumah tangga yang dibangunnya dari nol. Akhirnya dengan berat hati dan juga desakan dari pihak keluarga sang istri, sang suami mengajukan gugatan cerai.
Perceraian mereka dikabulkan pengadilan. Anak sulung berada dalam pengasuhan sang suami dan anak bungsu ikut sang istri.

Setelah itu dia bisa sedikit bernafas lega, namun ada yang masih terus membayanginya. Soal masa depan anak bungsunya kelak. Dia sama sekali tidak percaya akan pengasuhan istrinya, bagaimana pendidikannya kelak. Bisa saja uang yang diberikan tiap bulan sebagai tunjangan untuk sang anak, digunakan oleh istrinya untuk terus melanjutkan gaya hidupnya tersebut.

Namun pengadilan telah memutuskan demikian. Dia harus dengan tegar menerimanya. Hanya dengan satu harapan, kelak dapat bersatu kembali dengan anak bungsunya, entah kapan.

Demikianlah kisah dari sahabat saya itu. Bahwa keutuhan rumah tangga adalah tanggung jawab dua orang yang telah berkomitmen sebelumnya, menjadi sangat jelas. Perjuangan mempertahankannya tetap kokoh berdiri, adalah perjuangan dua buah tiang keluarga, suami dan istri. Bukan hanya suami atau istri semata.

Silahkan menafsirkan dan menilai sendiri cerita nyata tentang sahabat saya itu. Semoga cerita ini bermanfaat & dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Ada banyak hikmah dibalik semua peristiwa. Dan pasti setelah hari gelap selalu akan berganti dengan hari terang.

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s