Selingkuh membawa ‘maut’

Dalam Pandangan Ratih Andjayani Ibrahim, psikolog dari Personal Growth, apa yang dialami oleh selebritas yang heboh dibicarakan masyarakat belakangan ini tak perlu terlalu dipusingkan. “Sebab, apa yang terjadi adalah urusan mereka sendiri, saya malah kasihan sama mereka,” ujar ibu dua anak ini.

Menurut dia, ada banyak faktor yang menjadi penyebab perselingkuhan. Setiap perselingkuhan yang terjadi memiliki alasan dan argumen sendiri. Variasi dari alasannya juga amat sangat beragam. Namun, dia mengemasnya ke dalam pengelompokan yang lebih sederhana. “Ada dua belas alasan,” ujarnya.

Alasan pertama, karena jatuh cinta. Sangat mungkin seseorang mengalami jatuh cinta karena hal itu sangat manusiawi. Jatuh cinta adalah hal yang tidak direncanakan terjadi tetapi bisa terjadi pada setiap orang, dalam situasi yang bahkan mengejutkan, termasuk kepada siapanya. “Jatuh cinta adalah salah satu dari sekian banyak misteri besar kehidupan,” kata Ratih.

Kedua, karena memang ingin saja. Ingin selingkuh dan melakukannya.

Ketiga, karena iseng dan coba-coba dan lalu terjadi.

Keempat, karena ingin tahu, dan terjadilah perselingkuhan.

Kelima, menjadi tren. Semua orang berselingkuh, why not me?

Keenam, karena peluangnya terbuka lebar. Jadi mengapa tidak?

Ketujuh, tekanan sosial. Jika tidak berselingkuh, seseorang dianggap anomali dan dinilai aneh di kelompoknya.

Kedelapan, karena balas dendam dan trauma.

Kesembilan, karena pembuktian diri. Seseorang ingin dirinya disebut sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati. “Itu namanya kompensasi,” ujar Ratih.

Sementara alasan kesepuluh, karena terjerumus saja dan tidak sengaja. Namun, bisa juga karena digoda, diiming-imingi, dikejar-kejar, dicintai, lalu menjadi merasa tidak enak hati atau masuk ke alasan-alasan sebelumnya.

Kesebelas, bisa juga karena kebiasaan karena pola asuh dalam keluarga, model panutan dalam keluarga atau karena tokoh idola seseorang berselingkuh.

Akhirnya keduabelas kata Ratih, perselingkuhan bisa dipicu karena ketidakmampuannya masuk ke dalam satu relasi yang ajeg.

“Sebetulnya masih banyak alasan lain.”
Bagaimana mengantisipasinya? “Dia musti kenal dirinya dulu, kenal fenomena apa yang ada disekitar dirinya. Apa saja konsekuensi dari perselingkuhan itu, baik kepada dirinya, orang terdekatnya, maupun dampak sosial ke banyak orang lain disekitarnya. Dengan demikian, mudah-mudahan yang bersangkutan bisa secara bijaksana bersikap,” kata psikolog itu.

Menurut Ratih, dalam perselingkuhan tidak selamanya pihak-pihak yang terlibat bisa menghentikan aksi ‘pasangannya’ yang sedang jatuh cinta. “Membatasi, mengancam, memberi ultimatum, dan mengamuk, tidak selalu efektif untuk menghentikan perselingkuhan pasangan.”
Mengapa? karena kundinya ada dalam diri si pelakunya sendiri. Pasangan yang saling mencintai, respek, percaya, dan setia adalah kunci meminimalkan kemungkinan terjadinya perselingkuhan.

Sumber : Edisi Munggu Bisnis Indonesia, 20 Juni 2010
Penulis : Rahmayulis Saleh – Bisnis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s