Teknologi Berbagi

Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (Q.S. Ibrahim (14):31)

Dalam berbagai literature, petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat tentang berbagi kepada sesama manusia dalam bentuk apa pun menyimpan sebuah misteri luar biasa yang menarik untuk dikaji. Betapa tidak, jika seluruh umat manusia baik dari sisi budaya atau tradisinya maupun karena ajaran agamanya diwajibkan untuk berbagi dalam bentuk apapun tentulah ada sesuatu yang ingin Allah ajarkan kepada hamba-Nya melalui ajaran tersebut.

Berbagai penjelasan telah diberikan oleh para ahli, alim ulama dan orang-orang saleh lainnya tentang berkah-berkah dari sedekah mulai dari kemudahan dalam urusan keuangan, kesehatan, hubungan dengan sesama, keselamatan, keimanan, dan lain-lain. Bahkan tidak jarang kita dengar mekanismenya terjadi dalam bentuk yang tidak dapat diterima oleh akal pikiran kita, barangkali begitulah Allah mencoba mengajarkan kita tentang rezeki, solusi dari arah yang tidak disangka-sangka sebagai mana tercantum dalam firman-Nya:

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S. At-Thalaq : 3)

Dari sekian banyak mutiara hikmah ajaran untuk berbagi apakah itu disebut infak, zakat, maupun sedekah saya melihat ada sebuah keindahan nasihat sedekah dari sisi pembersihan hati dan jiwa, hati yang dipenuhi dengan nafsu diproses menjadi hati yang bebas penuh rasa ikhlas. Melalui berbagi atau sedekah, Allah ajarkan kepada kita untuk terampil membebaskan diri dari nafsu duniawi berupa rasa takut kehilangan atau kekurangan harta benda, ilmu pengetahuan dan lain-lainnya.

Cobalah perhatikan orang di sekitar kita yang biasa memberi kemudian mengalami ujian kehilangan harta benda atau orang yang dicintai biasanya akan lebih mudah untuk menerima dan mengikhlaskan, akan lebih mudah berserah karena memang dia terbiasa menyerahkan dirinya, hartanya, ilmunya, keahliannya kepada Tuhannya melalui hamba-hamba-Nya. Dengan demikian jiwanya akan lebih mudah terjaga bersih dari segala noda prasangka-prasangka yang menghambat prestasinya.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka, Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. At-Taubah : 103)

Jika demikian adanya adalah sebuah konsekuensi yang logis sekali juka teknologi berbagi ini diaplikasikan dengan baik maka fitrah hidup kita yang dipenuhi dengan kemudahan dan kebahagiaan akan terpancar dalam kehidupan sebagai efek dari keberhasilan menyerahkan diri dan menentramkan hati. Jiwa yang tenang akan mengundang kehidupan yang juga menenangkan dan membahagiakan.

Sumber : Masakini Newsletter donatur dompet dhuafa republika, edisi Jumadil Akhir 1431H 0510 –

Penulis : Erbe Sentanu (Spiritual Motivator, Personal Transformation Coach dan Corporate Soul Consultant; Pendiri Katahati Institute, Penggagas Teknologi Okhlas”; Penulis Buku Best Seller Quantum Ikhlas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s