Balada Mas Gun

Mas Gun memacu cepat sepeda motornya seiring rintik hujan yang mulai turun sore itu. Semangatnya begitu menggebu untuk segera memulai rencananya. Terbayang oleh mas Gun wajah anak-anaknya yang ceria jika nanti menerima oleh2 pemberiannya.

“Pak, aku mau susu kotak yang rasa coklat ya” kata Anisa sambil mencium tangannya

“Kalo aku mau yang rasa coklat juga” Mila, adik Anisa mengikuti kakaknya

Si bungsu kiki, hanya tersenyum kepadanya sambil mengulurkan tangan minta digendong.

“Iya, nanti bapak belikan susu kotaknya. Sabar ya” kata Mas Gun. Diciumnya ketiga kanak-kanak yang masih kecil itu.

Semangatnya menyala lagi, setelah kepala security kenalannya memperbolehkannya menarik ojek di depan mall bergengsi di pusat kota. Lumayan, hasilnya bisa untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya pasca di-PHK dari tempatnya bekerja seminggu lalu.

Jalan pinggiran trotoar tempat mangkal Ojek tujuannya sore itu sepi, tidak terlihat satupun tukang Ojek yang sedang parkir disitu. “Wah, asik nih, bisa langsung dapat pelanggan..” pikirnya senang.

Tak berapa lama, sejak ia sampai disitu, datanglah motor tukang ojek yang biasa mangkal disana. Dengan senyum mengembang dan suara yang riang, disapanya lelaki tersebut.

“Sore Bang. Kenalkan nama saya Gunawan, kalau boleh saya minta ijin ikutan ngojek disini buat beli susu anak saya. Kemarin saya juga udah ngomong sama Pak Japri kepala security mall depan. Katanya tempat ini dia yang pegang ya?” Nyerocos Mas Gun memperkenalkan dirinya.

Si abang ojek melihat sekilas padanya, lalu berkata..

“Wah, maaf bang.. tempat ini udah banyak ojeknya. Jadi ga nerima tambahan tukang ojek lagi. Lagian sekarang sepi penumpang bang, ga kayak dulu. Tukang ojek yang udah lama aja kadang tekor mulu.”

“Tekor mulu gimana maksudnya Bang?” tanya Mas Gun tidak mengerti.

“Iya, maksudnya ga dapet penumpang.. kalopun dapet juga paling cuman 1 – 2 orang aja”

“Jadi,..” kejar mas Gun

“Iya, jadi situ ga bisa ngojek disini. Udah kebanyakan orang”

“Tapi ini tadi sepi Bang, saya sampe disini ga ada tukang ojeknya. Lagi narik semua ya ?” Keukeh tetap ingin sekali ikutan ngojek disitu, Mas Gun belum putus asa.

“oo.. sebagian belum pada dateng bang. Tapi pokoknya situ ga boleh ngojek disini. Biarpun udah ngomong sama Pak Japri tuh. Yang tau dapet penumpangnya kan kita2, Pak Japri mah taunya cuman dapet jatah setoran ajah tiap hari, dia mah emang maunya banyakin tukang ojek disini..” Si abang ojek nyerocos sekalian curcol

Mas Gun tak berkutik. Semangat membaranya seperti disiram air dingin.. apinya langsung padam. Walau Cuma sedikit, tapi sakit juga rasanya. Terbayang wajah ketiga anaknya yang menunggu dengan senyum lebar di rumah.

Lunglai dia meninggalkan tempat itu. Susu kotak buat anak-anaknya tidak jadi terbeli. Perih, kedua matanya berembun. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang mulai mengalir itu, mengingat ia sedang mengendarai sepeda motornya. Hanya hatinya yang terus menangis, seperti ada yang meremas keras jantungnya.. perih sekali.

Tiba di perempatan lampu merah, ia masih melaju dengan kencang. Tak melihat ia lampu sudah berubah menjadi merah, motornya terus melaju. Malangnya dari arah kanannya, sebuah mobil melaju cepat. Sang sopir tidak dapat menghindarinya lagi. Motornya tertabrak & Mas Gun terpental, kepalanya menghantam aspal jalanan yang basah oleh hujan.. semuanya menjadi gelap.

Suatu sore kala Jakarta diguyur hujan lagi…

 

hargia-1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s